blog Detail

Sosok “Dino Patti Djalal” yang Saya Kenal

Sumber: Duta Besar RI untuk AS, Dino Patti Djalal (kanan) bersama isterinya Rosa Djalal (kiri) berpose bersama Ketua Komisi Luar Negeri Kongres AS, Ed Royce saat peresmian Indonesia Kaukus di Kongres Amerika, 14 November 2013 (foto: KBRI Washington, DC).

Sejak datang di Washington DC sekitar 17 tahun lalu, saya sudah mengalami lima kali pergantian Duta Besar Indonesia untuk AS: mulai dari Arifin Siregar, Dorodjatun Kuntjorojakti, Soemadi Brotodiningrat, Soedjadnan Partohadiningrat, dan terakhir adalah Dino Patti Djalal, Duta Besar RI untuk AS termuda dalam sejarah, yakni mulai menjadi Dubes pada usia 45 tahun.

Pada awal kedatangannya di Washington bulan Agustus 2010, Pak Dino tampaknya agak kikuk dalam membangun hubungan dengan masyarakat. Sempat menjadi bahan pembicaraan warga Indonesia soal gaya Duta Besar baru - yang ketika itu dianggap kurang mau bergaul dengan masyarakat.

Saya ingat, suatu hari di bulan Ramadhan 3 tahun lalu, tiba-tiba saya ditelepon oleh Pak Dino, diajak untuk ngobrol sambil minum kopi setelah buka puasa. Saya kaget juga seorang Duta Besar mengajak minum kopi berdua. Dalam pertemuan itu, kami berbicara mengenai berbagai hal. Pak Dino mengakui belum sempat untuk melakukan pendekatan dengan baik kepada masyarakat karena masih beradaptasi dengan tugas baru, tapi beliau berjanji untuk makin dekat dengan masyarakat Indonesia.

Setelah itu, saya lihat gaya Pak Dino banyak berubah. Bagi saya, ini mencerminkan bahwa beliau adalah sosok pemimpin yang mau “mendengar” masukan dari berbagai pihak. Beliau semakin sering hadir di acara-acara dan menyatu dengan masyarakat, seperti ikut buka puasa bersama dengan makan lesehan di lantai, dan banyak hadir di berbagai acara masyarakat lainnya.

Hal ini tentu tidak bisa dilakukannya setiap saat, karena Pak Dino selain bertugas sebagai Duta Besar ternyata tetap masih mengemban tugas lamanya sebagai “speechwriter” (penulis pidato) Presiden SBY yang membuatnya harus sering pulang-pergi Washington-Jakarta dan masih ikut mendampingi Presiden jika ada acara tingkat tinggi di mana Presiden SBY harus menghadirinya. Namun, di sela-sela sempitnya waktu, beliau masih berusaha untuk dekat dengan masyarakat, dan tetap produktif dalam melakukan lobi kepada pemerintah AS. Bahkan, istri Pak Dino, Rosa Rai Djalal, juga ikut terlibat aktif dalam melakukan diplomasi publik, dan merupakan pendiri sekaligus Presiden NGO di Washington yang bergerak dalam pemberdayaan UKM perempuan Indonesia, yaitu Indonesia-U.S. Women Council (http://www.iuswc.org/). Tak salah, kalau seorang sesepuh masyarakat memuji Pak Dino di hadapan Presiden SBY sebagai “the Best Indonesian Ambassador” selama puluhan tahun dia menyaksikan kepemimpinan beberapa Duta Besar di Washington.

Pak Dino juga beberapa kali kirim SMS atau menelepon saya untuk mengundang hadir dalam berbagai pertemuan, baik acara seminar di KBRI, di Gedung Kongres AS, dan sebagainya. Bahkan ketika ada penandatanganan Kemitraan Pemerintah RI-AS yang kemudian ditindak-lanjuti dengan pemberian grant(hibah bukan utang) senilai 600 Juta Dolar AS dari MCC (Millennium Challenge Corporation), Pak Dino meminta saya hadir di berbagai pertemuan dengan pihak MCC, termasuk ketika pimpinan MCC bertemu Presiden SBY di New York. Saya sangat mengapresiasi berbagai kesempatan yang beliau berikan, meski itu bukan bagian dari tugas Duta Besar. Di luar agenda resmi, saya juga pernah diajak nobar (nonton bareng) pertandingan sepak bola DC United (klub sepakbola di Washington DC yang dimiliki pengusaha Indonesia Erick Thohir, yang sering memberi Pak Dino beberapa tiket gratis).

Namun, di samping gayanya casual dan bersahabat, hal yang sangat memberi kesan mendalam kepada saya adalah, Pak Dino bukan hanya kaya dengan ide-ide yang brilliant, tetapi juga bisa membuktikan dan mampu mewujudkan gagasannya dengan baik, meskipun semula banyak orang menganggap idenya sulit dilakukan karena keterbatasan pendanaan atau hambatan yang besar.

Banyak torehan prestasi yang berhasil dilakukannya selama menjabat Duta Besar, mulai dari memecahkan Rekor Dunia Guinness bermain Angklung di lapangan National Mall di Washington yang diikuti lebih dari 5 ribu orang, menyelenggarakan lomba desain batik untuk para desainer Amerika, menghadirkan tokoh-tokoh RI-AS dari berbagai agama untuk mendorong perdamaian Timur Tengah dengan berkunjung ke Palestina dan Israel, membentuk Kaukus Indonesia di Kongres AS, dan masih banyak lagi. Namun yang menurut saya pribadi sangat spektakuler adalah keberhasilan Pak Dino untuk menggagas penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia dari seluruh dunia yang pertama kali dilakukan 6-8 Juli 2012 di Los Angeles.

Istilah ‘Diaspora Indonesia’ semula hanya digunakan dalam wacana terbatas beberapa warga Indonesia lintas negara yang berusaha mendesak penerapan UU Dwi Kewarganegaraan di Indonesia. Sekitar awal tahun 2012, ketika pertama kali Pak Dino mengajak bincang-bincang beberapa orang di Washington dan mencetuskan gagasan Kongres Diaspora Indonesia sedunia, beliau mengatakan bahwa belum ada uang 1 sen-pun yang tersedia untuk mendanai Kongres Diaspora Indonesia, tapi beliau yakin Kongres ini, bila berhasil dilakukan, akan banyak manfaat dan kontribusinya bagi bangsa Indonesia di masa mendatang.

Pak Dino berpandangan, sudah saatnya bangsa kita melihat Diaspora Indonesia di luar negeri, baik yang masih WNI atau sudah WNA sebagai asset bangsa yang harus dipelihara dan didorong, agar selain bisa memberikan kemudahan bagi para Diaspora sendiri, akhirnya juga akan membawa nama baik bangsa dan memberikan kontribusi lebih besar lagi terhadap pembangunan di Tanah Air.

Ketika hadir dalam Kongres Diaspora (CID I) yang bersejarah di Los Angeles, saya lihat Pak Dino dan Panitia Kongres dari KBRI dan KJRI di AS, masih khawatir kalau pesertanya akan sangat sedikit. Utamanya, karena sulit untuk memastikan bahwa para Diaspora Indonesia di luar Amerika pasti akan bisa dan mau hadir, mengingat jarak tempuh dan kesulitan teknis lainnya. Tak dinyana, acara itu sukses besar dan dihadiri tak kurang dari 2.000 delegasi dari sekitar 30 negara, bahkan kalau dihitung dengan warga Indonesia yang tinggal di kota Los Angeles dan sekitarnya yang hadir mencapai 5 ribu orang lebih.

Namun, baru saja para Diaspora Indonesia dari seluruh dunia bersuka cita campur terharu, karena suksesnya Kongres bersejarah yang ditutup dengan pembacaan Deklarasi Diaspora Indonesia seperti halnya Sumpah Pemuda, waktu itu pada pidato penutupan Kongres, Pak Dino sudah langsung mencetuskan target baru, bahwa tahun depan (Agustus 2013) kita selenggarakan Kongres “Diaspora Pulang Kampung” di Jakarta agar momentum dari Kongres Diaspora pertama ini tidak hilang.

Kongres Diaspora (CID II) di Jakarta ini pun berlangsung dengan sangat sukses, karena dihadiri total oleh sekitar 9.500 orang dan acara Kongres menjadi liputan utama berbagai media Indonesia selama dua minggu. Menko Hatta Radjasa pun sontak memuji: Dino adalah sosok pemimpin yang bisa menelorkan gagasan-gagasan yang sebelumnya tidak terpikirkan orang lain. Bahkan saya dengar, Pak SBY sampai menangis terharu bertemu para Diaspora Indonesia dari berbagai negara di dunia, yang tidak hanya masih cinta Indonesia tapi mau berkontribusi positif terhadap pembangunan bangsa. Kongres Diaspora Indonesia benar-benar telah membuka mata, mengubah paradigma berpikir (mindset) bangsa  kita bahwa ada asset potensial bangsa Indonesia di berbagai penjuru dunia yang selama ini tidak diperhatikan dengan baik, kini berhasil disatukan dalam sebuah wadah yang digagas oleh seorang Dino Patti Djalal.

Bagi saya bukan hanya itu yang saya kagumi dari sosok Pak Dino, tapi justru ketika semua orang berterima kasih dan memuji gagasan dan upayanya menyatukan Diaspora Indonesia di seluruh dunia, Pak Dino tidak berusaha mengklaim atau menjadikan gerakan Diaspora Indonesia sebagai “batu loncatan” bagi kepentingan atau ambisi pribadinya.

Ketika Kongres Diaspora II berlangsung di Jakarta, saat itu Pak Dino sudah memutuskan untuk mengikuti konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat. Tentu jika beliau seorang politisi yang oportunis, momen Kongres yang disorot oleh berbagai media Tanah Air akan berusaha beliau manfaatkan secara optimal agar semua tahu bahwa Dino Djalal adalah penggagasnya, sebagai sarana untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas di panggung politik Indonesia.

Tapi, itu sama sekali tidak dilakukannya! Sebelum dan selama berlangsung Kongres Diaspora di Jakarta, Pak Dino menolak diwawancarai media soal pencalonannya sebagai Capres Partai Demokrat. Beliau menegaskan tidak akan mencampur-adukkan agenda politik dengan gerakan Diaspora. Gerakan Diaspora harus selalu menjadi gerakan yang nonpartisan, gerakan yang bebas politik agar tidak memunculkan musuh-musuh politik.

Kata Pak Dino, gerakan Diaspora bisa diterima seluruh masyarakat Indonesia adalah karena bebas politik, dan kita harus bisa memelihara dan menjaganya agar tetap seperti itu, pesannya. Bahkan itu juga dibuktikannya dengan menarik diri dari milis Diaspora global agar orang tidak melihat atau berprasangka Pak Dino menjadikan gerakan Diaspora sebagai kendaraan politik. Di sinilah saya melihat bahwa Pak Dino bukanlah seorang politisi, beliau adalah seorang Negarawan!, ya negarawan, karena Pak Dino melakukan sesuatu bukan berdasar kalkulasi politik, tapi demi kemajuan dan kepentingan seluruh bangsa.

Terakhir, beberapa bulan lalu ketika beliau banyak disebut-sebut akan menempati posisi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Pak Dino bilang kepada saya: kalau disuruh memilih untuk menjadi Kepala BKPM atau menjadi Calon Presiden, beliau akan lebih memilih yang kedua meskipun harus mundur dari pegawai negeri dan Duta Besar, karena beliau sudah mantap untuk melangkah lebih jauh dan bukan hanya mengejar jabatan semata.

Partisipasi Pak Dino dalam konvensi Calon Presiden bukan hanya untuk memenuhi panggilan sejarah, tapi juga karena beliau merasa berhutang budi kepada bangsa Indonesia. Beliau selalu mengatakan bahwa memenangkan konvensi bukan tujuan utamanya, tapi beliau ingin memberikan pendidikan politik dan memberikan contoh yang baik bagaimana berpolitik dengan jujur dan adil. Beliau ingin menjadi pelopor bagi generasi muda untuk selalu bersikap optimis dan siap membenahi politik Indonesia yang belum sepenuhnya berada di jalur yang benar. Pak Dino pernah bilang: bayangkan kalau “the best & the brightest” dari kalangan generasi muda malah menghindari panggung politik, bagaimana kita bisa membenahi bangsa kita untuk menjadi bangsa “Indonesia Unggul” yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain?

Singkatnya, itulah sosok Pak Dino yang saya kenal selama 3 tahun terakhir lebih. Tentu masih ada kekurangan beliau di sana-sini, tapi menurut saya, kita memilih pemimpin bukan karena pemimpin itu sempurna atau mendekati sempurna, tapi karena yakin sosok yang kita pilih adalah pemimpin yang jujur, yang mau mendengar suara rakyat dan juga mau belajar dari kekurangannya untuk menjadi lebih baik lagi. Sosok pemimpin juga bukan mereka yang hanya bisa mengobral janji-janji semata, tapi harus bisa menjalankan janji dan gagasannya, memberikan contoh nyata yang pada akhirnya mampu memupuk optimisme dan menginspirasi banyak orang. Sosok itulah yang saya temukan dalam “Dino Patti Djalal”, sosok seorang negarawan.

Terimakasih Pak Dino atas persahabatannya selama ini, semoga sukses dengan perjuangan baru untuk mencerdaskan kehidupan politik bangsa.

Washington, DC: Januari 2014

Priyo Pujiwasono

0 Komentar