Aktifitas Terakhir Detail

Dino: Ekonomi Indonesia Berada pada Jalur yang Benar

Jakarta, 7 Mei 2014 - Peserta konvensi Capres Partai Demokrat Dino Patti Djalal mengatakan ekonomi Indonesia berada pada jalur yang benar.

Menurutnya, di saat negara emerging ekonomi di dunia banyak mengalami penurunan drastis, seperti Thailand yang terpuruk karena krisis politik, peringkat perekonomian Indonesia justeru mengalami peningkatan menjadi nomor 10 seperti dirilis Bank Dunia tahun ini.

Peringkat ini naik dari tahun lalu yang menduduki nomor 16 dunia. Indonesia kini berada di bawah Amerika Serikat, China, India, Jepang, Jerman, Rusia, Brasil, Prancis dan Inggris.

Ia menuturkan, pencapaian ini patut disyukuri. "Dari ribuan tahun sejarah nusantara, kita adalah generasi pertama yang berhasil menembus 10 besar ekonomi dunia," katanya.

Dino berharap, siapa pun yang memenangi pemilu akan melihat fondasi-fondasi yang telah susah payah dibangun pemerintahan SBY sebagai aset-aset positif yang terus dikembangkan.

Menurutnya, penting bagi pemerintahan mendatang untuk menjaga kesinambungan pembangunan sebagai jalan bagi Indonesia menuju kekuatan ekonomi dunia pada 15 hingga 20 tahun ke depan.

Tidak hanya pada bidang ekonomi, sebut Dino, hubungan luar negeri Indonesia era Pemerintahan SBY pun mengalami banyak kemajuan.

Ditegaskannya, Amerika Serikat dan negara barat saat ini melihat Indonesia tidak lagi sebagai bangsa pesakitan seperti saat krisis moneter tahun 1998 dulu, apalagi dibanding era 1960'an.

Ia menegaskan, saat ini Amerika telah mengakui Indonesia sebagai negara yang strategis tidak hanya untuk Amerika, tetapi juga dunia.

"Amerika, hitam di atas putih, juga telah menegaskan tidak mendukung gerakan separatis mana pun di Indonesia," tuturnya.

Menurutnya, hubungan bilateral Indonesia-Amerika didasarkan pada kemitraan sejajar. Bahkan, dalam beberapa kasus sengketa perdagangan, Indonesia menang atas Amerika.

"Kita pernah menuntut Amerika di World Trade Organization (WTO) dalam kasus kretek dan kita menang. Begitu pula dalam persoalan ancaman embargo udang oleh Pemerintah AS," tutur mantan Duta Besar indonesia untuk Amerika Serikat ini.

0 Komentar